Tuesday, February 16, 2010






METAFISIKA

Anwari Doel Arnowo – 14 Februari, 2010.

Untuk mengerti lebih baik apa arti kata yang digunakan untuk judul ini, saya silakan membuka dua link di bawah ini, satu dalam bahasa Indonesia dan yang satu lagi dalam bahasa Inggris.

http://en.wikipedia.org/wiki/Metaphysics

http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/09/02/cyber-world-suatu-kenyataan-atau-ilusi-belaka/

Di dalam link ini dikutip satu bagian yang menarik hati saya, yang bisa membantu menerangkan mengenai kata metafisika sebagai berikut: pembahasan mengenai realitas, kualitas, kesempurnaan, yang-ada, yang tidak terdapat dalam dunia fisik, tetapi menguasai dunia fisik.

Hari ini, 14 Februari 2010, selama sekitar tiga jam saya berada di sebuah kumpulan anggota masyarakat yang terdiri dari bermacam-macam asal dan tingkat pengetauannya serta pengalamannya yang mereka miliki. Ada yang doktor, ada yang professor dan ada yang ulama serta ada yang peramal, malah mungkin sekali banyak yang non akademisi. Mereka ada yang muda usia yang saya kirakan sekitar umur dua puluh lima tahunan, ada yang sudah tua, ada yang biasa disebut dengan istilah paranormal, ada yang biasa di dalam kalangan ini sebagai yang melakukan channeling.

Ini pengalaman saya yang pertama kali, berada di antara mereka yang mempunyai hal istimewa “pengetauan” yang sejenis. Yang saya sebut sejenis itu adalah bidang metafisika, karena di tempat di mana saya hadir ini membentang sebuah spanduk yang berbunyi: Selamat Datang Para Peserta Sarasehan Metafisika Study Club.

Di meja moderator ternyata sudah disediakan beberapa kursi dan dalam hampir seluruh acara, duduk di situ:

1. Dr. Sabdono Surohadikusumo mantan Ketua Ikatan Paranormal Indonesia,

2. Permadi, SH sang paranormal yang terkenal,

3. Ibu Ani tidak lain dari Ani Sekarningsih yang menulis sebuah Paperback: Osakat, Anak Asmat Memburu Kalacakra,

dan yang keempat last but not least adalah:

4. Nyonya Laurent atau Mama Loren, sang peramal yang kondang.

Pak Sabdono, usianya lebih senior dari saya, membuka acara ini dengan kata-kata yang biasa, tidak menggebu-gebu suaranya, memberi gambaran kepada saya sebagai orang yang awam mengikuti sarasehan semacam ini serta masyarakat seperti apa yang ditampung di dalam sarasehan seperti ini. Banyak hal yang disinggung dengan serius di dalam pertemuan ini, yang merupakan hal baru maupun hal yang sudah pernah saya dapatkan di media tulis cetak maupun media maya internet. Pembicaraan semua peserta bisa saja mengikuti topik: fakta-fakta lingkungan hidup, bencana alam, politik dan kepercayaan agama. Kebetulan setelah merenungkan hal-hal yang diungkapkan di dalam sarasehan tersebut, saya teringat banyak hal yang sebelum ini sudah saya masukkan ke dalam ingatan saya, telah tanpa sengaja saya lupakan, karena saya mungkin merasakan kurang perlunya saya memerdulikan lebih mendalam. Yang baru bagi saya tentu saja banyak juga yang lain, di antaranya mengenai kalacakra dan yang disebut dengan istilah channeling. Saya baru mengetaui mengenai adanya ilmu yang mendalami hari dan tanggal lahir serta susunan nama seseorang, yang menggunakan istilah kalacakra. Juga saya telan saja waktu pak Sabdono menyebutkan bahwa diperlukan sekitar tiga puluh orang yang mempunyai kemampuan channeling, apa ini? Ternyata saya baru tau setelah seorang peserta yang duduk di sebelah kanan dari seorang teman saya yang persis sebelah kanan saya. Teman saya ini terlihat berbicara dengan dia dan kemudian menerangkan sesuatu. Dia mengenalkan teman bicaranya itu sambil berbisik kepada saya, bahwa orang di sebelahnya itu adalah seorang paranormal. Saya berbisik kembali kepadanya jadi kita berdua ini orang para tidak normal dong? Teman saya ini terseyum ditahan dan dia, sang paranormal itu, setelah bersalaman dengan saya, menunjuk seorang yang sedang berbicara di dekat meja moderator, katanya si pembicara adalah seorang yang sedang berbicara tetapi ‘sesungguhnya’ bukan dia yang berbicara. Haaa???? Saya sedikit terkejut! Jadi menurut pengertian saya, orang yang berbicara itu “dimasuki’ ruh atau jiwa lain dengan sukarela atau aktif bersedia dimasuki, dan menjadi “speaker” bagi yang memasukinya.

Di depan mata saya seorang yang kurus, perempuan dan lumayan semampai tinggi badannya mungkin di atas 165 centimeter, berasal dari bali dan datang dari sana pagi tadi, memulai kata-katanya seperti menggumam dan dengan sempurna menghadap kepada hadirin dan mengeluarkan kata-kata banyak sekali. Pembicaraannya meliputi semua hal dari lingkungan hidup dan hidup selaras dengan sekitarnya tetapi dilandasi cinta dan kasih. Selanjutnya kata cinta mendominasi pembicaraannya, dan pada waktu ini, saya mendapat informasi bahwa yang berbicara itu bukan dia. Agak terusik juga saya mendegarnya, kalau saja saya sendirian, bulu kuduk saya akan berdiri. Ah ini masih belum pukul dua belas siang dan di sekeliling saya memang banyak orang-orang yang tidak biasa. Saya tetap memegang pendapat saya bahwa saya adalah orang biasa. Biasa sekali. Amat biasa.

Sambil mendengar para pembicara di meja moderator berbicara, ada saatnya si paranormal yang di sebelah kanan dari kawan saya itu tiba-tiba bertanya kepada saya menanyakan kapan saya ke Kanada lagi. Saya kaget, kok dia tau? Teman saya segera berbicara kepada saya, bahwa dia tidak menyebut-nyebut mengenai saya dan Kanada, lalu mana mungkin dia tau?? Dia bertanya apa saya di Ottawa? Saya jawab bukan, karena saya di Toronto, apa pula ini urusannya?? Dia bilang sebaiknya saya menyempatkan ke Ottawa lagi karena ada sesuatu yang baik bagi saya di sana. Heh?? Ini semua tidak saya minta dan dia meneruskan “pengamatannya”, sambil melihat secara keseluruhan tubuh saya dan sekeliling saya. Teman saya menerangkan bahwa dia sedang mengenali siapa saja yang menjadi pendamping saya dan merupakan pelindung saya selama ini. Sang paranormal sendiri meneruskan pengamatannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat ke bawah dan ke arah saya lagi, menggumam sendiri dan berkata: “Lho ini apa hubungannya, kok ….?” Teman saya bertanya: “Ada apa? Apa yang anda lihat? Siapa yang ada di sekitar sini?”

Dia tiba-tiba menganjurkan saya untuk pergi ke Spanyol dan mengunjungi sebuah mesjid dengan kubahnya yang besar di Cordova. Saya bertanya apa yang saya bisa lakukan di sana sambil mengatakan bahwa selama ini saya belum pernah ke Spanyol dan tidak ada ingatan saya mau ke sana? Cordova itu di sebelah mana? Terdengar di telinga saya bahwa yang dikatakannya itu mengandung suasana mistis dan religius. Bagaimana tidak, dia seakan terdorong mengatakan bahwa salah satu pelindung saya itu mengatakan demikian juga. Teman saya mendesak:

“Siapa pelindung dia (maksudnya saya) ?? Siapa namanya??” Sang paranormal menjawab: “Sayyidinah Ali” Lho apa pula ini? Apalagi teman saya ini menanyakan apakah di dalam darah saya ada keturunan Arab? Hampir meledak tawa saya karena geli, beruntunglah untuk menjaga sopan santun saya tidak tertawa. Saya jawab ya mungkin saja, toh yang namanya Sayyidina Ali ini kan hidup 1600 tahun yang lalu?? Mana pula saya bisa tau??

Dia teruskan bahwa yang selalu ada di sekitar saya adalah dua “orang” lagi, dan dia tidak melanjutkan dengan klarifikasi siapa saja. Sayapun tidak bertanya lebih jauh, dengan alasan karena terlihat Permadi memulai giliran berbicaranya. Saya lihat sang paranormal meninggalkan tempat duduknya dan pergi entah ke mana sampai saatnya kita selesai makan siang, saya tidak melihat dia lagi setelah saat itu. Saya juga tidak berusaha mencarinya. Pengalaman-pengalaman yang sifatnya spiritual seperti itu biasanya saya lupakan saja, akan tetapi kali ini saya tuliskan agar tidak terlupa lagi. Siapa tau ada kaitannya dengan sesuatu pada masa yang akan datang, kan ini menyangkut metafisika?

Permadi SH, seperti telah diduga, sebagai seorang peramal terkenal dan mantan anggota dpr dari fraksi PDIP serta sekarang dia telah “pindah” ke Partai Gerindra, pasti akan mengeluarkan uneg-unegnya dengan gaya seorang orator yang meniru Bung Karno, mencela agak berlebihan pemerintahan SBY dan yang mana saja di masa yang telah lalu kecuali Bung Karno!! Mengungkap fakta bahwa apa yang dipercayainya adalah Pakem Jawa dan segala sudut sejarah Raja-Raja Jawa era Kediri, Majapahit dan segala kepercayaan yang dianutnya. Tidak lupa dia menunjukkan bahwa SBY itu sudah ada di dalam TERAWANGAN KEJAWEN-nya tidak sesuai memerintah, serta memegang jabatannya sebagai presiden terlalu lama. Itu sudah ditunjukkan dengan terjadinya bencana-bencana berturutan yang terjadi segera setelah dia terpilih: misalnya kecelakaan di jalan Tol dekat Cibubur yang menimpa entourage (rombongan para pengiring) nya. Di susul dengan Tsunami di Aceh serta di bagian Barat dari Pulau Sumatra dan lain-lain bencana yang menyusul kemudian. Saya tidak bisa menangkap di mana hubungannya seorang pemimpin satu bangsa yang bisa terhubung dengan phenomena alam seperti itu. Bila ada yang bilang saya ini bodoh karena telah berkomentar seperti itu, so be it (biarkan saja)!! Kebodohan saya tadi kan akibat saya tidak bisa mengerti. Bukan bodoh karena memang dari asalnya. Ditambahkannya bahwa menurut Terawangan Kejawenya lagi, sebenarnya pak Boediono itu jatahnya hanya sampai ke jabatan sebagai Gubernur Bank Indonesia saja, mengapa pula dia mau menjadi Waklil Presiden?? Di dalam batin saya banyak terucap kata WAH berkali-kali. Apa sebabnya? Karena saya sudah mendengar kata-katanya seperti itu selama bertahun-tahun yang lalu, melalui banyak wawancaranya di Q Channel dengan Peter Gonta dan pernyataan-pernyataannya di media, isinya ya sekitar hal-hal seperti itu saja. Yang saya kurang sepaham adalah ramalannya tentang akan terjadinya GORO-GORO dan kemudian muculnya SATRIO PININGIT (Pahlawan Penyelamat yang masih Tersembunyi atau the Hidden Saviour) yang akan memakmurkan bangsa ini. Pendapat saya: bahwa yang dimaksudkan dia dengan Satrio Piningit itu sebaiknya apabila diterjemahkan menjadi sifat malas bekerja keras, tidak jujur, terlalu menonjolkan egonya masing-masing dan menganggap orang lain itu salah, dengan kecualian dirinya sendiri. Satrio Piningit seperti anggapan saya inilah yang sekarang sepatutnya digali dan dikembangkan agar bisa menumpas semua sifat-sifat negatif yang sejak lama mewabah di dalam masyarakat Indonesia, terutama yang mengatakan bahwa Indonesia itu adalah Gemah Ripah Loh Jinawi dan akan memakmurkan bangsa ini dengan mudah, tanpa bekerja keras. Itu salah, kekayaan kita di dalam bumi berupa bahan galian tambang, berupa hasil hutan dan tanaman semuanya bisa habis, lenyap kalau kita tidak bekerja mengeluarkan keringat. Dia berkali-kali mendapatkan tepukan tangan kalau mengeritik SBY beserta pemerintahan di bawah kelolanya. Itu memang dengan mudah bisa didapatkannya, karena sejalan dengan pendapat yang sedang marak diutarakan oleh banyak unsur masyarakat kita. Saya tidak mendengar bagaimana solusi yang ditawarkannya agar mengatasi lemahnya pemerintahan dan kondisi menyedihkan di Indonesia, kecuali dengan menunggu adanya goro-goro dan si Piningit ini. Dia tidak mengucapkan anjuran bekerja dan giat berproduksi, berlaku jujur dan bersosialisasi baik dan normal dengan sekitarnya yang pasti akan bisa menyebabkan rakyat berpenghasilan tetap dengan bermartabat, serta nyaman menjalani hidupnya.

Sebelum giliran Permadi, SH ini memang Ibu Ani Sekarningsih agak lama menerangkan megenai masalah yang dikemukakannya, yakni mengenai pendalamannya menggunakan ilmu Kalacakra. Dia sudah melakukan penghitungan dengan menggunakan ilmu ini dan mendapatkan kesimpulan bahwa SBY tidak akan jatuh di tengah jalan, jadi justru dia menganjurkan agar kita semua memberi dukungan, agar bangsa ini terbebas dari perbuatan anarkis yang tidak dikehendaki. Anjuran ini saya anggap baik-baik saja, demi persatuan bangsa. Tetapi terbersit di dalam pikiran saya untuk untuk bisa membantu pemerintahan ini, apakah presiden bersedia memberi peluang untuk mendukungnya dengan memperhatikan rakyat lebih baik?

Pada beberapa saat waktu Permadi berbicara, muncullah Mama Loren yang duduk di atas kursi roda, diumumkan oleh pembawa acara bahwa beliau ini baru saja selesai dirawat dan keluar dari Rumah Sakit dan nanti makalahnya yang telah disiapkan akan dibacakan oleh salah seorang anggota Panitia. Cukup panjang bunyi makalahnya yang juga menyebut tentang kemungkinan-kemungkinan bencana alam karena poros bumi yang berubah letaknya dan akan menyebabkan Kutub Utara mencair dan air laut pasang naik sampai lima meter serta ada pergeseran-pergeseran di permukaan tanah di atas Planet Bumi. Tentang adanya lempeng-lempeng yang bertumbukan sehingga menyebabkan adanya gempa-gempa bumi yang dahsyat baik yang sudah silam maupun yang akan datang. Bahkan sesudah gempa Padang akan masih enam kali lagi akan terjadi. Dengan segala permohonan maaf sebesar-besarnya, saya sampaikan bahwa hal-hal ini sudah dimuat di media, baik cetak maupun elektronik dan saya juga sudah membaca mengenai kejadian-kejadian gempa-gempa ini di internet, yang diumumkan oleh para ahli geologi Australia pada tahun 1995an. Ada juga disebut-sebut, malah ditunjukkan buku yang memuat new theory on Atlantis by a Brazilian scientist, Prof. Arysio Santos, yang menyebut bahwa Indonesialah yang telah dimaksudkan sejak lama. Saya membaca sejak orang ramai membicarakan hal ini, ada perkembangan baru yang membantahya di internet. Sayangnya saya belum bisa mengingatnya, saat ini, siapa melakukannya. Suatu saat nanti akan saya temukan.

Kesimpulan saya, sebagai orang yang tidak pernah mau memperhatikan ramalan-ramalan astrologi dan lain-lain yang agak ghaib, tidak usahlah seorang Mama Loren, dalam hal itu semua orang yang ikut membaca apa yang telah saya baca, pasti akan berpendapat yang sama dengan saya.

Meskipun demikian ada yang saya garis bawahi dari kata-kata Mama Loren ini mengenai manusia Indonesia sekarang yang kurang hormat kepada Tuhan dan lebih mengedepankan agama-agama. Itu seratus persen benar.

Ke-tidak-sesuaian pikiran saya ini di dalam banyak hal yang saya kemukakan di atas, adalah karena saya pikir disebabkan: para pembicara ini sedang menghadapi para hadirin yang kurang homogen, tidak sejalan dalam cara pemahamannya dan pemikirannya dengan yang berbicara, oleh bermacam-macam sebab. Antara lain kalau saya kaji dalam-dalam, mengapa saya sampai mau hadir di sarasehan seperti ini, saya tidak bisa menerangkannya. Saya merasakan situasi yang asing bagi diri saya berada di situ, beberapa yang hadir di sana saya sudah pernah kenal lama, tetapi yang terbukti mereka ini yang amat mempercayainya dan karena telah pernah lama memahaminya, terasa seperti orang asing bagi diri saya.

Adakah sesuatu yang ghaib yang telah mendorong dan “membawa” saya ke satu ruangan dengan mereka??

Anwari Doel Arnowo

14/02/2010 - 21:51

No comments: