Thursday, April 12, 2007


Tanpa Batas Negara

Created by Anwari Doel Arnowo Jumat, 02 Desember 2005

Lelucon via short message service sudah biasa, seperti contoh berikut: A good example of the definition of globalization is the case of princess Diana’s death with an Egyptian boy friend crashed in a French tunnel in a German car driven by a Belgian who was drunk on Scotts whiskey, followed by Italian paparazzi on a Japanese motorcycle, treated by an American doctor, using a Brazilian medicine. This message was created by an Indonesian on a Korean phone smuggled by a Pakistani. This is globalization.
Oleh karena saya terhanyut oleh suasana globalization seperti itu saya jawab sebagai berikut: I dreamt of a world without any state at all. Nationalism? I am proud if an Indonesian person e.g. you yourself wins a Nobel Prize.
Tidak saya sangka sipengirim sms mengomentari sebagai berikut ini:
Saya setuju banget dengan impian anda itu. Saya kira dunia akan aman dan damai serta sejahtera apabila semua negara meleburkan diri menjadi satu yaitu Negara Dunia. Hanya ada satu mata uang, hanya ada satu Hukum dan lain-lain. Negara-negara yang ada sekarang menjadi negara bagian dari Negara Dunia.
Pemerintah Pusatnya bisa sementara dengan mengkonversi PBB menjadi Pemerintah Pusat. Untuk masa peralihan seperti itu, nantinya akan diatur lagi dalam jangka waktu tidak lebih lama dari 10 tahun. Tetapi tidak boleh ada negara bagian yang mempunyai hak veto dan dominan seperti sekarang berlaku di PBB. Saya pernah berangan-angan seperti itu. Rupanya anda pernah memikirkannya juga. Bravo untuk anda.

Nah ini lumayan juga dapat teman yang berpikiran sama. Beberapa hari lalu pada tanggal 12 bulan lalu saya menulis article mengenai banyak ketidak beresan PBB dengan judul “U.N.O.”
Sebenarnya pemikiran Tanpa Batas Negara pernah saya kemukakan kepada ayah saya pada waktu saya masih duduk di Sekolah Menegah Pertama di kelas dua. Waktu beliau mendengar cara pikir saya itu, beliau berkomentar bahwa pemikiran saya itu seperti pemikiran seorang sosialis. Ayah saya adalah tokoh PNI (Partai Nasional Indonesia), jadi beliau mungkin berpikir sebagai seorang activist PNI. Yang jelas saya waktu itu, cuma bengong saja, karena saya tidak paham apa sih arti seorang sosialis itu. Mungkin sekarangpun saya masih belum mengerti, padahal ayah saya itu mengucapkannya pada tahun 1954, lebih dari lima puluh tahun yang lalu. Beberapa kejadian dalam bulan Nopember ini menghanyutkan saya kearah pemikiran-pemikiran yang saya kembangkan dalam bentuk tulisan, karena sering ketika saya kemukakan, maka kebanyakan yang mendengarkan mencibir sinis.
Itu bukan sesuatu yang mengecewakan saya, akan tetapi memang mungkin forumnya tidak sesuai.
Pada tanggal 30 Nopember saya menerima email dari seorang Pejabat Tinggi Negara yang kebetulan adalah salah satu teman saya sejak tahun 1955 sewaktu kita bersekolah di Sekolah Menengah Atas. Isinya kalau digabungkan bernuansa merindukan kebebasan dan kemerdekaan seperti yang saya alami. Dia masih mempunyai atasan: seorang Menteri dan Presiden dan belum bisa bebas seperti katanya, a.l. : Biasalah, kuli harus menunggu apa kata majikan. Memang enak kalau bebas merdeka seperti anda. Orang seumur kita-kita ini memang memerlukan rasa kebebasan berfikir, bersikap dan bertindak. Apalagi seperti posisi saya sekarang yang harus menerima titah orang-orang yang dulunya adalah Juniorku. Karena itu I’m looking forward to join you with all the freedom you have --- to think, to talk and to do whatever we want. “Ooo what a wonderful world.....” seperti katanyan Louis Armstrong dalam nyanyiannya yang serak-serak basah..... .

Ini bukan sesuai dengan pepatah terkenal the grass is always greener over the fence.

Memang kita, pengirim sms diatas, pejabat tinggi teman saya dan saya sendiri memang telah sampai pada umur yang kira-kira sama tuanya. Saya sendiri sudah meninggalkan dunia kesibukan business kira-kira delapan tahun lalu waktu saya mencapai umur enam puluh tahun, dan resminya menjadilah saya seorang pengangguran.
Akan tetapi masa menganggur saya ini, saya telah hampir penuh mengisinya dengan kerja sosial membantu para penderita stroke, berolah raga jalan kaki hampir setiap hari bersama anjing saya, main musik, berkumpul bernostalgia dengan teman-teman lama, mengobrol via telepon, email dan chatting, sudah dua bulan ini saya mengikuti kursus guitar classic, dan sebagainya, etcetera. Menghadiri pertemuan keluarga baik dari istri dan dari saudaranya istri serta dari besan dan sebagainya. Semua saya lakukan sesuka-suka saya. Kalau tidak suka dengan sesuatu, saya hindari agar tidak ada clash kepentingan dan tidak menimbulkan masalah stress baru. Rupanya gaya hidup saya seperti ini menjadi perhatian beberapa teman yang rupanya rindu dengan kebebasan. Saya katakan kepada teman saya yang birokrat itu, kalau pensiun dan selesai tugas pemerintahan, jangan berbisnis, itu dunia saya. Kalau kamu berbisnis akan mendapat kekecewaan baru. Lihatlah saya, sekarang ini saya tidak akan mengejar apapun yang berupa keuntungan materi atau bisnis, kalau saya bisa memprediksi bahwa keuntungan yang saya peroleh akan membawa sengsara dikemudian hari. Saya utamakan adalah kepentingan kesehatan yang baik dan prima. Ungkapan yang urut adalah: bersih itu sehat, akan tetapi sehat itu mahal. Mahal dalam pengelolaan maupun dalam pembiayaan finansial. Jadi jagalah agar tetap bugar dan sehat, physic maupun mental, agar sejahtera. Sejahtera tidak dapat diukur dengan banyaknya atau cukupnya materi.
Banyak faktor dari dalam relung hati kita sendiri, justru yang menentukan terjadinya kesejahteraan pribadi.
Berikut ini masih menyangkut masalah kesejahteraan.
Ada seorang anak teman saya yang telah berkeluarga dengan seorang anaknya yang belum berumur 3 tahun. Baru-baru ini dia berangkat dan pindah tempat tinggal dan pekerjaan di negara lain yang letaknya jauh sekali. Ketika ditanya mengapa dia berbuat demikian, dia menjawab bahwa dia tidak ingin kaya raya seperti ayahnya dan teman-teman ayahnya, akan tetapi hanya ingin hidup sejahtera, menghidupi keluarga, mendidik dan menyekolahkan anaknya di lingkungan yang sehat. Wah kalimat pendek ini justru rasanya seperti menempeleng kita para orang tua. Kita para senior ini, telah tidak melakukan pekerjaan dengan benar sehingga seorang junior seperti dia mempunyai pemikiran yang seperti itu. Pemikiran yang sehat dan progressive. Kita sudah terpaku kepada pemikiran bahwa hidup yang benar adalah hidup yang berkecukupan dan juga berlebihan dalam bidang materi. Rumah besar, uang banyak dan apapun yang tidak dapat dicapai sewaktu masih muda, dapat diperoleh sekarang waktu sudah berumur. Ternyata sang Junior membuka mata para orang tua.
Seorang Jerman baru pensiun dan mengunjungi Indonesia. Dia telah bertemu dengan teman-temannya yang dulu bekerja di Pertamina dan yang pernah berkunjung ke Jerman dengan menunjukkan kemewahan yang berlebihan.
Sekarang si orang Jerman ini terheran-heran bagaimana teman-temannya yang dulu bermewah-mewah, hidupnya sekarang tidak berkecukupan, sedang dia yang hidup tidak mewah tetapi merasakan hidup sejahtera. Si orang Jerman memang belum berusia pensiun, 59 tahun, akan tetapi diberi kesempatan pensiun dini dan diberi pensiun sebesar 80% gaji yang diterimanya seperti pada waktu dia masih aktip bekerja. Syaratnya: dia tidak dibolehkan untuk bekerja apapun yang lain, biarpun pekerjaan sosial. Jadi apa kerjanya? Dia jalan-jalan keliling dunia, ke Greenland motret-motret, ke pulau Komodo dan sebagainya. Yang patut diingat adalah siorang Jerman ini bukan orang kaya raya yang bisa bermewah-mewah!!
Jadi pemikiran saya mengenai Tanpa Batas Negara adalah keadaan yang memungkinkan orang bergerak didunia ini tanpa memikirkan keimigrasian, tanpa memikirkan bangsa, golongan atau ras, tanpa mencurigai kepercayaan yang bentuknya tidak sama dengan kepercayaan kita sendiri. Dia boleh bangga menjadi orang Negro, menjadi orang beragama Mormon, atau lulusan Podok Pesantren Ngruki dan boleh menikahi seorang China yang berkulit kuning. Mau mendirikan rumah di Pulau Halmahera dan makan babi serta tidak suka makan pete, silakan saja. Siapapun diharapkan agar tidak menghina orang lain yang kebetulan kurang beruntung hidupnya dibandingkan dengan dia. Tidak boleh mengatakan tidak, hanya untuk bertetangga dengan tetangganya yang kebetulan suka mengonsumsi makanan yang tidak disukainya, misalnya daging ular atau macan sekalipun.
Semua tidak dan iya diatur oleh peraturan yang ada yang disetujui oleh sebagian besar penduduk didunia. Apakah Pemerintah itu adalah PBB ataukah Dewan Dunia atau apapun, asal memperoleh persetujuan sebagian besar manusia, ya harus ditaati. Judi, minum minuman keras, madat? Sediakan tempat tertentu yang tersendiri. Dua hal itu adalah kebiasaan yang kita, yang manusia telah terbukti tidak pernah bisa berhasil memberantasnya selama lebih dari dua ribu tahun lamanya.
Saya tidak menganjurkan orang untuk terlalu mencampuri urusan orang lain utamanya dalam berpolitik, beragama, berkelakuan baik atau buruk, apalagi kalau dia sendiri masih banyak kekurangannya. Saya sadar sepenuhnya bahwa orang akan menentang dan mungkin mengumpat beberapa bahkan banyak bagian dari pendapat-pendapat dan pemikiran-pemikiran diatas. Itu semua karena orang belum bisa mengganti yang selama ini diyakininya. Saya menerima perubahan pendapat saya sendiri, misalnya mengenai nasionalisme. Tahun 1945 saya menerima pendapat mengenai Nasionalisme seperti apa yang umum memahaminya waktu itu. Sekarang saya sudah menyiapkan mental saya untuk menerima perubahan mengenai hak ingin merdeka dari siapapun.
Belum ada satu pihakpun yang siap merdeka, biarpun dia sudah lama berteriak ingin merdeka. Republik Indonesia memproklamirkan diri merdeka dan sudah siap dengan konstitusinya keesokan harinya. Tidak semua negara bisa seperti ini.

Borderless adalah solusi tahap pertama yang paling mudah dilaksanakan.
Sepanjang seseorang dapat menunjukkan identitas dirinya dengan sah dan benar, dia boleh pergi kemana saja dia mau. Identitas diri harusnya bukan hambatan kalau tidak ada kepentingan para birokrat yang menghambatnya.

Search Engine seperti Google dan sebangsanya bukan barang aneh lagi. Saya bisa mencari sebagian besar informasi mengenai seseorang, dari George Walker Bush sampai Harry Potter bahkan Dr. Azahari sekalipun. Orang bisa berangkat dengan visa electronic dan ticket electronic. Hari ini cuma perlu bawa paspor saja. Tidak lama lagi maka paspor yang electronicpun akan bisa diciptakan, kalau mau. Bahkan secara technical tidak mustahil untuk menanam identitas electronic didalam tubuh manusia.
Itu hanya soal waktu saja.
Conflict antar negara biasanya karena perbedaan kepentingan. Bisa saja kepentingannya adalah kepentingan nasional tetapi juga bisa karena soal like and dislike. Presiden Bush tidak suka Saddam Hussein? Belum tentu. Bush mewakili keserakahan Industri dan ekonomi Amerika. Apakah minyak Irak bukan sesuatu yang amat menarik minat Amerika? Kebohongan ditutupi lagi dengan kobohongan lain, sehingga seperti snowballing, bola salju yang kian membesar dan membesar tidak dapat dikendalikan. Bola salju juga bisa saja akan melindas si pencipta asal dari kebohongan pertama.


Created by Anwari Doel Arnowo
---ooo000ooo---



U m u r


Created by Anwari Doel Arnowo
Jumat, 11 Nopember 2005

Pada suatu upacara Prof. Dr. Haryono Suyono berpidato mengenai umur manusia. Karena dia pernah menjadi Menteri Kependudukan dan Keluarga Berencana, saya simak dengan baik-baik. Dikatakan olehnya bahwa umur mnusia Indonesia sekarang dapat diharapkan rata-rata mencapai 65 hingga 70 tahun. “Kalau jaman kakek dan nenek kita dulu mungkin akan hanya mencapai sekitar 45 tahun saja. Sekarang dengan membaiknya gizi makanan, kesadaran akan kesehatan manusia, serta tersedianya berjenis-jenis obat, maka orang Indonesia sudah beruntung pada saat ini dapat mencapai umur rata-rata hampir 70 tahun”.
Tahukah anda bahwa menurut catatan acak yang ada umur manusia selalu lebih tua dari umur ibu yang melahirkannya? Dulu hal ini tidak pernah terpikir oleh saya. Akan tetapi secara bergurau saya pernah diramal oleh seseorang bekebangsaan Thailand pada suatu saat ketika kita berdua sedang berada ditengah hutan di Kalimantan Selatan. Saya yang tidak mau terlibat dalam ramal meramal secara serious, hanya mendengarkan saja. Setelah memperhatikan raut muka saya dan membaca rajah ditangan saya baik yang kiri maupun kanan, dia mengatakan bahwa umur saya bisa mencapai 100 tahun. Untuk sekedar membuat suasana ceria, saya tanya apa mungkin bisa lebih? Seratus lima misalnya, semua yang mendengar tertawa tetapi dia malah lebih serious mengatakan bahwa itu amat mungkin. Karena saya ingat bahwa ayah saya mencapai umur delapan puluh tahun dan delapan puluh hari sedang ibu saya tujuh puluh dua tahun apalagi nenek, yang ibu dari ayah, saya mencapai sembilan puluh empat tahun, saya tidak mentertawakannya lagi.

Sepulangnya dari hutan dan dari Banjarmasin saya naik pesawat Garuda menuju Jakarta via Surabaya. Pesawat lepas landas dan sebelum geraknya mendatar pramugari muncul berdiri menghadap penumpang dan mengatakan kita terpaksa mendarat lagi karena keadaan darurat. Pesawat menukik tajam kekiri seperti pesawat pemburu. Orang disebelah saya sudah berdoa dengan suara yang agak keras. Kita mendarat dengan selamat dan menunggu didalam terminal selama satu jam dan disilakan berangkat lagi. Persis seperti sebelumnya, pramugari muncul lagi dan mengumumkan hal yang sama dan pesawat menukik lagi. Si orang muda yang tadi berdoa, sekarang malah pucat dan tangannya menggenggam pegangan kursi dengan kuat sehingga buku-buku jarinya jelas terlihat. Keringat mulai mengucur dari dahinya. Saya senggol sedikit dia sambil berkata: “Dik, jangan khawatir, kita akan selamat, kok. Saya yakin kita akan selamat, karena saya baru diramal kemarin oleh seorang berkebangsaan Thailand, yang mengatakan umur saya akan melampaui seratus tahun.”
Dia melirik saya, masih kelihatan ketakutan, tetapi tidak berkata sepatah katapun. Pandangan matanya saja menusuk sekali, seakan-akan mengatakan “Kamu gila, ya?!” Tetapi pada waktu touch down dengan selamat, dia bergegas berdiri dan menuju pintu keluar dengan cepat. Waktu saya memasuki gedung terminal kelihatan dia memperhatikan saya dan mendekat, mengajak berjabat tangan dan kelihatan ingin berbincang-bincang. Tetapi saya segera bergegas ke counter check in perusahaan penerbangan lain dan naik ke pesawat lain yang sesuai tujuan saya yakni Surabaya secepatnya. Karena saya tidak membawa bagasi maka saya dapat pindah pesawat dengan mudah dan sampai di Surabaya dengan selamat. Sekarang saya masih hidup dan kejadian itu adalah sekitar tiga belas tahun yang lampau.
Memang umur adalah rahasia Tuhan. Hampir tidak ada seorang manusiapun yang mengetahui kapan hidupnya berakhir. Saya sendiripun tidak menyoal umur saya atau umur orang lain, Menyerah sajalah toh hampir tidak ada gunanya disoalkan. Sebenarnya apa sih yang akan bisa kita perbuat kalau saja bisa mengetahuinya terlebih dahulu?
Theori yang mengatakan bahwa umur kita berpeluang lebih panjang dari umur orang tua kita mungkin ada benarnya. Lingkungan hidup dan sarana yang kita punyai serta pengetahuan umum mengenai makanan sehat dan obat-obat penangkal penyakit sudah tentu lebih baik, kalau dibandingkan yang dipunyai generasi orang tua kita. Akan tetapi itu semua sepanjang “kelakuan” kita masih memenuhi kriteria normal.
Apa yang kita alami sekarang tidak dialami oleh generasi orang tua. Dulu tidak ada orang sibuk membicarakan bahkan terlibat narkoba atau minuman keras atau obessity (kegemukan berlebihan) dan hal-hal negative lainnya. Kalau kita simak sekarang bahwa dahulu obessity hanya kita kenal dari para “cendekiawan dan bijaksanawan” bangsa China (misalnya Kong Fu Tze). Menurut gambaran orang China yang cendekiawan dan bijaksana adalah orang yang gendut dan pahanya dan lehernya berlipat serta pipinya gembung. Fakta sekarang di negara-negara berkembang orang obese itu jumlahnya sekitar tigapuluh persen dari manusia obese didunia. Dinegara berkembang, banyak praktik meniru pola makan rakyat dinegara maju tanpa aturan yang baik. Menjadi orang miskin tidak menjamin bahwa dia akan mempunyai bentuk tubuh yang kurus kering dan kerempeng. Generasi terdahulu tidak mengalami hidup yang menurut istilah Jawa: ngongso-ongso (hampir seperti memaksakan diri hingga terengah-engah). Naik pesawat Jet bahkan pesawat supersonic, minum minuman keras lebih dari semestinya, adalah santapan orang modern. Seorang yang berlebih uang, belum tentu mau berlebaran di sekitar rumahnya di Jakarta atau Purwokerto. Mereka akan memilih ke Singapura, Australia dan bahkan ke Amerika. Sifat semèlèh orang Jawa bisa jadi bahan tertawaan orang modern yang seperti digambarkan tadi. What money can buy – apa yang dapat dibeli dengan uang sungguh dinikmati secara berlebihan bahkan sedikit urakan.
Ini salah satu sebab mengapa tiap orang sebaiknya mendalami ilmu manajemen perkembangan diri sendiri.
Saya pernah mendengar seorang dokter senior (usianya lebih dari 80 tahun) yang mengatakan bahwa orang normal tidak memerlukan tambahan vitamin. Kalau dia memang sudah dibuktikan kekurangan vitamin maka dia boleh menambah vitamin yang diperlukan.
Tetapi apa yang terjadi? Vitamin dan suplemen ditawarkan orang tanpa batasan, malah dipakai sebagai status symbol. Buah merah? Semua dengan latah ikut mengkonsumsinya. Mengkudu? Sudah agak kurang kita mendengarnya. Mungkin kalau ada yang jahil atau iseng mengatakan bahwa kelamin Harimau Sumatera adalah baik untuk kesehatan, maka orang akan berbondong bondong pergi ke hutan-hutan Sumatera untuk mendapatkannya. Itu ciri-ciri orang dari dunia “maju”, tetapi mungkin sekali keliru.
Saya sendiri mempercayai bahwa yang amat mengenal tentang kondisi kesehatan seseorang adalah orang itu sendiri. Kalau dia tanggap bahwa semua jenis rasa sakit ditubuh seorang manula itu adalah tanda (sebaiknya disebut saja dengan alarm tanda bahaya) bahwa sesuatu penyakit sedang perlu diwaspadai karena sudah pada periode awal dan mulai berkembang. Kalau kita ke Dokter dan berkonsultasi selama maximum tiga puluh menit, maka tidak mungkin dokter tersebut akan dapat tuntas mengetahui apa tindakan yang diperlukan untuk mengatasi keluhan. Dokter jaman sekarang akan merujuk pemeriksaan laboratoris dan menggunakan alat-alat pemindai kedokteran yang sedang berstatus mutakhir.
Misalnya dengan menggunakan alat seperti Sinar X (X Ray), Computerised Tomography Scan (CTScan) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau bahkan merujuk dokter lain yang lebih ahli. Itu kalau dokter yang benar. Lain halnya kalau dia segera memberi resep obat untuk segera dibeli dan dikonsumsi, kemungkinan kesalahannya masih cukup tinggi. Seperti baru-baru ini saya saksikan sendiri, seorang Mantri (berarti dia ini bukan dokter) yang biasa membantu dokter yang melakukan narcose (bius), manjalankan praktek pribadinya dengan cara dia seperti berikut. Siapapun yang minta tolong kepadanya untuk keluhan sakit, selalu diinjeksi dengan Neurobion 5000. Mungkin saja sakitnya segera hilang, akan tetapi benarkah ini akan menghilangkan penyakit ?
Praktik kesehatannya yang berada di tengah hutan di pulau Kalimantan Tengah, menyebabkan kontrol dari yang berwenang kurang sekali.
Hal-hal seperti ini tidak dialami oleh generasi terdahulu. Terlebih lagi hal ini amat terkait dengan umur. Saya ingat pada jaman tahun 1952 an sewaktu saya masih menjadi pelajar Sekolah Menengah Pertama, orang-orang tua selalu menceritakan bahwa orang generasi terdahulu dari orang tua saya, selalu menanak nasi dan setelah matang selalu menumpahkannya ke tampah dan dikipasi, diangin-angini sampai dingin baru dikonsumsi (nenek saya menyebutnya denga istilah di ngi). Karena seringnya hal ini didengung-dengungkan saya terpengaruh dan sampai sekarang kalau ada pilihan nasi dingin saya selalu memilihnya.
Saya menikmatinya, kalau saya ditanya mengapa saya akan kehabisan kata untuk menjawabnya. Kedengaran irrasional akan tetapi telah belangsung seumur dewasa saya. Saya tidak mempunyai jawaban, apalagi jawaban yang rasional. Yang begini diyakini oleh banyak orang membuat orang lebih bersabar.
Umur saya sekarang 67 menjelang 68 tahun, saya dalam keadaan sehat, cholesterol dan uric acid serta gula darah, paru dan jantung hampir semua normal. Rambut masih asli dan uban jumlahnya kurang dari 10 %. Gigi saya banyak yang palsu tetapi masih lengkap dan dapat mengunyah steak tenderloin yang medium rare maupun yang well done. Makan sashimi atau o sushi serta soto Betawi dan soto Kudus dengan otak goreng, semua dalam batasan tidak ugal-ugalan dan tidak tiap hari atau tiap minggu. Nasi memang saya kurangi sampai hampir 50%, karena mudah gendut karenanya. Sudah lebih dari 15 tahun saya menghisap cerutu dan saya lakukan lima sampai tujuh batang sehari. Paru saya di Röntgen pada bulan Agustus yang lalu, bersih dari penyakit. Semua ini tidak menjadikan saya sombong, terbukti saya masih melakukan jalan kaki sekitar 30 sampai 45 menit untuk jarak sekitar empat kilometer, hampir setiap hari. Mungkin hampir sebanyak 300 hari dalam setahun, termasuk pada waktu berpuasa dalam bulan Ramadhan.
Kalau kebetulan harus bersama rekan bisnis saya yang orang asing, “terpaksa” minum satu atau dua sloki whiskey, saya layani dengan mudah. Tidak mabuk dan tidak goyang. Beer juga dapat saya minum tetapi tidak untuk mabok. Minum sake pun demikian halnya. Saya tidak memusuhi sesuatu makanan yang orang lain bisa makan. Saya makan Coto Makasar meskipun saya tahu dagingnya daging Tedong (Kerbau). Saya dengar di Guang Zhou, dekat Hong Kong ada makanan panggang yang digantung-gantung dipamerkan, selain babi tetapi sekarang sedang populer adalah anjing. Selain saya belum pernah kesana, pasti sekali, saya tidak akan mau memakannya. Saya sudah pernah makan daging ular, satu dua kali, daging biawak, trenggiling dan kuda. Juga daging macan dan daging rusa serta kera dan kelelawar. Sudah cukuplah rasanya memakan bervariasi makanan termasuk masakan Padang, masakan Menado dan masakan Melayu dan hampir semua jenis masakan di pulau Jawa serta Bali. Jadi membeberkan pengalaman dan keadaan kesehatan saya diatas bisa membuka orang seperti apa saya ini dan tentu saja tergantung kepada siapa yang menganalisanya dan mengomentarinya. Itu semua sudah liwat, sudah sejarah dan sedang berjalan dalam hidup saya. Kalau sekarang saya mempersoalkan umur maka itu adalah diluar jangkauan saya. Mati kapanpun saya terima dan saya akan jalani. Dunia telah saya jelajahi dan akhirat bukan akhir yang mesti jelek, tergantung vonnis yang akan saya terima. Misalnya kekiri Neraka dan kekanan Surga, itu saya akan turut dan terima saja perintahNya.

Created by Anwari Doel Arnowo
---ooo000ooo---

Monday, April 09, 2007


Flurries sedang bertaburan di balkon

Sebelum naik ke CN Tower photo dulu dengan background
the city of Toronto

M o n e y
Created by Anwari Doel Arnowo
Sunday, April 08, 2007


Uang adalah alat tukar yang paling effective saat ini. Uang adalah benda buatan manusia yang menggantikan nilai barang-barang secara physic. Mata uang, berupa dan berbentuk physic bisa berupa kertas dan logam, tetapi mempunyai nilai tertentu yang diakui oleh sebagian besar manusia yang hidup diatas Planet Bumi. Kita akan membahas apa nilai uang sesungguhnya.
Dari segi ilmu Ekonomi, mungkin sekali sebagian besar manusia telah mengenalnya. Yang jarang dibicarakan orang adalah nilai nya secara mental dan non physical.
Saya menerima pada awalnya email-email mengenai uang dengan mengemukakan sebuah pendapat orang terkenal John D. Rockefeller seperti tersebut dalam asli email-email dibawah ini:

Pandu wrote:

I believe the power to make money is a gift from God.
I believe it is my duty to make money, and still more money.
John D. Rockefeller -
Berikut Ini saya cantumkan jawaban-jawaban:

Benny Waluya H. wrote:

Dear Comrade ,

Do always remember that " MONEY IS THE ROOT OF ALL EVIL "
Sorry, I don't remember .....who said that ! But we have always to be alert about that.
But ......, Poverty drives man to crime
Unknown.

----- Original Message -----
From: Peter Hariman
Sent: Monday, April 02, 2007 11:17 AM
Subject: Re: Rockefeller's 'Theology'.2.

kawan,untuk imbangannya, dari kalangan usahawan Chinese, punya proverb:钱 不 是 万 能, 但 是,没 有 钱 就 万qian bu shi wan neng, dan shi, mei you qian jiu wan 万 不 可 能 。wan bu ke neng


Kalau diterjemahkan: uang bukanlah serba bisa, tetapi tanpa uang semua jadi tidak mungkin.sorry, bagi kawan2 yang tidak menguasai Mandarin.harap ada comment, terutama dari Pandu dan Fuyuan.GBU all.

From: Pandu
To: Peter Hariman
Sent: Tuesday, April 03, 2007 4:34 AM
Subject: Re: Rockefeller's 'Theology'.2.
Friends,
Since this is a 'Theological' question, I asked the opinion of a priest. Here is his comments:
God creates all things including money.
That is why without money, as Peter (H. not St.) said: every thing would be impossible.
Therefore love money, the creation of God.
Money can buy:
- a house, but not a home.
- a crony, but not a friend.
- medicine, but not health.
- make-up, but not beauty.
- education, but not character.
- sex, but not love.
Unknown.
Cheers,
Pandu.



From: Darmawan Kurniadi
To: Pandu ; Peter Hariman
Sent: Tuesday, April 03, 2007 9:33 PM
Subject: Re: Rockefeller's 'Theology'.2.
Halo sekalian,
Boleh saya tambahkan sedikit lagi, sebagai berikut:
1. Uang itu mempunya dua muka; orang baik kalau dapat uang banyak dia bisa menjadi lebih baik dan orang jahat kalau dapat uang banyak bisa jadi lebih jahat, contohnya; seorang dermawan kalau dapat uang banyak, dia akan derma lebih banyak lagi, sedangkan seorang penjahat kalau dapat uang banyak dia akan membeli senjata, alat2 janggih untuk mendapatkan uang lebih banyak lagi.
2. Hubungan manusia dengan uang. Orang yang uangnya sedikit hidupnya diperintah oleh uang sedangkan yang banyak uang kerjanya memerintah uang. Saudara sendiri termasuk dalam golongan mana ?
3. Manusia kakinya dua, sedangkan uang berkaki tiga ! Maksudnya begini, walaupun saudara lari cepat untuk mengejar uang, dia lari lebih cepat hingga tak mungkin terkejar, sebaliknya kalau saudara tak mau uang dan coba lari mau menjauhinya tetap uang akan sampai ke saudara karena dia berkaki tiga dan larinya lebih cepat dari saudara ! Jadi manusia itu tak bisa cari uang, yang bisa cuma cari makan, dan kalau Tuhan memberkati, maka uang akan datang ke-saudara, tentu saja saudara harus berusaha, karena Tuhan tak akan memberkati seseorang kalau orang itu tak mau usaha apa2 ! O.K. menunggu tanggapan2 dari saudara yang lain ! Khing Giok
From: antonius eddy sotyakantjana<antonius_sotyakantjana@ … >To: Darmawan Kurniadi ; Pandu <irpandu@ … >; Peter Hariman ; Sent: Tuesday, April 3, 2007 10:29:29 PMSubject: Re: Rockefeller's 'Theology'.2.
Sebenarnya manusia hidup mencari uang itu tidak salah karena sehari2nya kita semua membutuhkannya. Cuma kalau direnungkan lebih mendalam, apa yang kita cari dalam kehidupan kita yang pendek di dunia ini? Kebahagiaan, Kesehatan, Ketenangan batin bersama pasangan hidup dan keluarga kita. Jadi apakah dalam mencari uang sampai mengkorbankan keluarga kita ataupun kesehatan kita ataupun nurani kita. Dalam menjalani hidup yg sehari2nya dipadati dengan berbagai aktifitas yg berorientasi dengan uang maka perlu
dicapai keseimbangan dengan pencipta kita (Tuhan), pekerjaan kita dan keluarga kita jika 3 hal ini bisa dijalani dengan porsi yang sepantasnya maka saya yakin meski mencari uang tapi tidak sampai lupa dengan keluarga dan Tuhan.
Jadi uang bukan prioritas lagi tapi kebahagiaan dan ketenangan batin bersama orang2 yang kita cintai.
Mohon maaf bila saya yang muda ini mencoba membagi perenungan.

Mungkin masih ada tanggapan-tanggapan yang lain tetapi yang saya cantumkan didalam tulisan ini adalah yang saya terima terakhir termasuk satu tanggapan dari dua buah yang berasal dari saya sendiri.
----- Original Message -----
From: Anwari Arnowo
To: antonius eddy sotyakantjana ; Darmawan Kurniadi ; Pandu ; Peter Hariman ;
Sent: Wednesday, April 04, 2007 9:39 PM
Subject: Re: Rockefeller's 'Theology'.2.

Yang penting anda harus bisa menyelia uang agar anda menjadi bahagia karenanya, kalau terjadi sebaliknya, cobalah hidup dengan jumlah yang lebih sedikit, lainnya disimpan dulu. Mungkin sekali anda menjadi bahagia.
Kalau dulu rumah ada delapan dan empat ada di tempat perisrirahatan, mobil ada sepuluh, kurangi rumah satu saja dan mobil dua saja. Anda akan menikmati hidup lebih menyenangkan. Kan uang bisa disimpan tunai dimanapun, dan cuma anda yang tahu. Jangan membebani pikiran. Santai saja.
Anwari Doel Arnowo a_arnowo@yahoo.com
Toronto,Ontario, Canada
Demikianlah kutipan email-email yang berikut jawaban secara sendiri-sendiri. Saya kutip nama-nama yang bersangkutan tanpa meminta ijin dari yang bersangkutan. Email jaman sekarang sudah milik umum, karena akan dengan mudah di forward kemana-mana, tanpa kontrol dari siapapun. Karena isinya tidak menyebabkan keresahan pada masyarakat, saya sampaikanlah pendapat yang variatip disini dengan harapan para pembaca dapat ikut menikmatinya.
Saya menganjurkan mengurangi jumlah uang yang dijadikan asset, seperti rumah peristirahatan dan atau mobil, bukan bermaksud mengganggu privasi orang lain. Anjuran saya adalah amat sesuai untuk orang yang merasa dibebani oleh hartanya yang berlimpah, padahal waktu dia melakukan pembelian asset yang memberati pikirannya itu, oleh karena semangatnya untuk berinvestasi dan atau untuk melakukan diversifikasi. Sekarang terasalah bahwa sebuah asset itu benar-benar ada bebannya, yang antara lain berupa pajak, biaya pemeliharaan, biaya kontrol dengan mengunjunginya dan beban mental sorotan orang lain, termasuk saudara-saudaranya sendiri, oleh karena assetnya memang cukup berharga. Bagaimana anda tidak akan mengunjunginya, kalau anda memiliki villa di Puncak dan Bali, misalnya. Kalau anda mempunyai seorang manajer khusus untuk masalah seperti ini, bukankah dia itu ada gajinya dan biaya-biaya yang terkait dengan tugasnya?. Beban yang tidak terlihat adalah: kalau anda menyewakan secara komersial, hampir pasti anda akan dibebani dengan dua pertanyaan pokok:
- Benarkah manager melaporkan income asset yang dikelolanya dengan jujur dan benar?
- Kalau pemakaiannya tidak untuk jangka yang lama bagaimana system kontrolnya yang baik untuk diterapkan?
Kalau dua pertanyaan yang wajar ini mulai mengganggu maka itu adalah beban pikiran yang tidak perlu. Tidak perlu ada!
Kalau asset tersebut dibeli dengan harga X, dan uang yang dipakai membelinya tidak dipergunakan untuk membeli asset tetapi dideposito, maka akan menghasilkan bunga deposito yang di Indonesia jumlahnya paling rendah dalam satu tahun 3% kali X. Dengan jumlah uang hasil bunganya ini, saya yakin anda akan dapat menggunakannya untuk membayar secara komersial dan beristirahat disekitar tempat asset anda sekarang selama beberapa hari dalam setahun. Jumlah hari per tahunnya mungkin akan lebih banyak anda peroleh kalau menggunakan bunga uang deposito dari pada kalau memiliki assetnya sendiri.
Kalau anda tidak mempnyai keluhan karena memiliki asset berapapun, maka anda bukan pribadi yang saya maksudkan dengan hal yang tersebut tadi.
Asset ataupun saham, sama saja. Semua terpulang kepada gejolak batin dan gaya kehidupan anda. Anda mempunyai kebebasan dalam memilih pilihan yang ada didalam proses berinvestasi, berdiversifikasi bahkan dalam memerangi hawa nafsu dan isi hati nurani anda sendiri atau bahkan, kalau ada, gengsi anda sendiri.
Didalam salah sebuah jawaban email diatas ada yang menyinggung bahwa uang adalah asal muasal dari semua kejahatan, yang mungkin direvisi dengan mengganti menganggur dengan uang, karena seingat saya peribahasa aslinya adalah:
Idleness is the root of all evil
Jadi bukan money tetapi idleness (pengangguran). Ini juga tergantung situasi tertentu terhadap orang tertentu pula.
Yang perlu dicerna adalah hubungan uang dan Yang Maha Kuasa Tuhan, Allah, Dewa dan Buddha atau Illahi yang lain. Kalau mau dikatakan bahwa uang itu suatu berkah atau sebuah nikmat atau sebuah kesenangan kalau jatuh dari Yang Maha Kuasa, maka WS Rendra mengatakan dalam salah satu pemikirannya sebagai berikut ini. Kalau kita kehilangan berkah atau nikmat atau kesenangan maka istilahnya akan berubah menjadi seratus delapan puluh derajat arahnya. Kita akan menggunakan istilah musibah kecelakaan dan cobaan dari Yang Maha Kuasa. Jadi sebenarnya sebaiknya adalah kalau kita tidak mengaitkan uang, rejeki dan lain-lain seperti itu dengan kekuatan Illahi. Segala hal diatas adalah ketrampilan anda berusaha dan berbadan serta berpikiran sehat, yang merupakan ciptaan Yang Maha Kuasa. Inilah sebenarnya yang disebut rejeki, nikmat atau kesenangan , atau sebaliknya musibah, kecelakaan dan cobaan dari Yang Maha Kuasa.
Saya menduga kita akan lebih sehat kalau memikirkan uang dan segala materi yang bersangkutan adalah hasil upaya dari manusia, karena dia diciptakan oleh manusia. Demikianpun halnya kalau anda melakukan upaya mencari uang dalam bentuk apapun janganlah mengumbar kata-kata yang menyangkut Illahi. Urusan Illahi adalah urusan dengan anda pribadi karena anda rajin menjalankan ajaran agama anda, dengan kepercayaan anda.

Kalau anda menjalankan ibadah agama anda tetapi pada waktu yang bersamaan berbuat bodoh dalam berinvestasi, hampir dapat dipastikan upaya anda tidak akan membuahkan hasil seperti diharapkan. Saya tengarai banyak orang berdagang sering berkata seperti berikut: “Demi Allah, saya akan merugi kalau anda membeli barang saya ini dengan harga sekian.” Pedagang seperti ini biasanya tidak berkata dengan sesungguhnya, atau tegasnya dia berbohong. Kalau anda bertemu dengan pedagang semacam ini, saya kira sebaiknyalah anda tidak percayai. Kalau kita menyimak cerita seorang nabi yang berdagang dipasar, maka mungkin sang nabi ini akan bisa berkata: “Kalau mau membeli barang ini, belilah dikedai sebelah, karena barangnya lebih bagus dan mungkin harganya lebih murah dari pada barang saya”. “Pedagang istimewa seperti ini” hanya ada kalau dia seorang nabi; manusia akan melakukan tindakan yang sebaliknya. Pedagang yang handal tidak melakukan tipu muslihat dengan mengatakan hal-hal yang menyangkut Illahi. Tidak ada larangan didalam agama apapun, untuk membeli barang seharga sepuluh satuan harga dan menjualnya sepuluh kali lipat, kalau memang ada kesepakatan yang normal dalam perdagangan antara penjual dan pembelinya.

Menanggapi sdr. Peter Hariman diatas maka you qian dan mei you qian (ada uang dan tidak ada uang) dengan hasil ekstrim berupa bu ke neng (tidak bisa), itu malah saya rasa bukan business yang Lie Hai (unggul). Business yang canggih adalah O P M (Other People’s Money).
Makin sedikit anda menggunakan uang sendiri maka makin canggihlah cara usaha dagang yang anda lakukan. Bukankah hampir lumrah atau biasa serta normal kalau pada jaman sekarang menggunakan uang pihak lain bagi keperluan usaha. Ada sarana yang normal dan modern serta disertai unsur kehati-hatian (fiduciary) didalam perdagangan seperti ini. Sebut saja sumber dana dari kredit Bank, Financial Institution, Private Placement bahkan Stock Market, Bonds, dan Funds apapun. Kalau anda jujur dalam melakukannya, anda adalah manusia beruntung, karena yang diperlukan adalah keunggulan anda dalam melakukan perdagangan atau uasaha apapun dengan menggunakan uang orang lain (O P M). Jangan malu berdagang seperti ini. Ini dilakukan oleh orang Arab, orang Yahudi, orang China dan orang India dan banyak orang Indonesia.
Tetapi masih banyak orang kita di Indonesia ingin memiliki saham besar dalam sesuatu usaha, tanpa berkeinginan menyetor sejumlah modal setara seperti dinyatakan dalam kepemilikan saham. Itu tidak adil dan terasa curang.
Kita tidak mau disebut seperti itu, kan?

Created by Anwari Doel Arnowo
Sunday, April 08, 2007 18:49:11
---ooo000ooo---

OPM OPM OPM OPM OPM OPM OPM OPM