Friday, November 27, 2009



Anwari Doel Arnowo – 27 Nopember, 2009

USUL SAJA

Ini adalah sebahagian dari tulisan saya berjudul: Valentine yang bertanggal 16 Febuari, 2005 :

Terus terang saya tetap senang dengan saling menghormati dalam beragama, karena agama adalah urusan yang paling pribadi. Menyuruh ini itu, begini begitu, itu dosa dan akan dihukum berat di neraka dan sebagainya dan seterusnya tiada habisnya. Hidup menjadi susah karenanya.

Di Amerika dan Eropa serta Kanada bahkan di Australia banyak kalangan sekarang sudah menengarai bahwa Santa Klaus perlu dipertanyakan. Banyaknya pertanyaan: “Do you believe in Santa?” membuktikan timbulnya keraguan itu. Pernah saya mendengar dari seseorang berkebangsaan Kanada yang mengatakan bahwa “Christmas and Santa is considered by many individual, that it has nothing to do with Christianity. More as a tradition or custom than religious matter. Both are full of commercials!” Padahal saya tahu dia ke Gereja dan bersembahyang secara Kristen.

Ini saya pakai sebagai awal sebuah tulisan, tentu saja saya memang bermaksud ingin menyampaikan sesuatu, yaitu tercampurnya adat dan kebiasaan ke dalam praktik keagamaan. Seperti diketaui oleh masyarakat umum, hari ini adalah Hari Raya Qurban yang dirayakan seluruh ummat Islam di seluruh dunia, secara internasional. Di Eropa, Amerika, Kanada dan di semua negara di jazirah Arab, tentu saja di Saudi Arabia sendiri. Tidak semua orang Idonesia “mau” mendengarkan kalau diberi tau bahwa Iedul Fitri itu hanya di Indonesia saja dirayakan secara besar-besaran. Salat Iedul Fitri itupun hanya sunnah wakadah, bukan wajib.

Saya ingin menyatakan bahwa saya tidak anti salat Iedul Fitri dan juga tidak anti bermaaf-maafan pada hari itu, meskipun saya benar-benar mengetaui bahwa hal itu tidak dilaksanakan secara internasional. Apalagi yang istilah Jawanya: Nyadran, ritual yang dilakukan orang Jawa dalam menghormati kuburan/makam leluhurnya. Yang saya berkeberatan, dan juga sama sekali amat tidak mendukung, kebiasaan kita MUDIK dengan mencampur adukkan Iedul Fitri secara bersamaan dengan adat-adat Jawa, atau daah lain. Mudik itu dilakukan oleh mereka, jumlahnya bisa mencapai lima juta jiwa lebih, yang sebagian besar mereka adalah yang penghasilannya pas-pasan malah kurang dari normal. Mereka memaksakan diri pergi dari Jakarta ke Jawa Tengah dan Timur serta kota-kota lain. Berangkat dengan membawa tabungannya yang setahun bekerja penuh di kawasan Jabodetabek, bersuka ria di kampung, royal menghamburkan uang yang didapatkannya dengan susah payah berupa tabungan, dan HABIS. Kembali balik ke tempatnya bekerja saja bisa membuat utang baru untuk ongkos kendaraan. Ini kan hal yang tidak masuk akal yang rasional. Itu yang saya amat keberatan, membiarkan mereka hidup boros dan kurang teliti menapak hidupnya yang tidak pernah jelas masa depannya. Tunggu dulu, sabar, jangan dibantah dulu. Sejak puluhan tahun yang lalu, saya menerima, setiap tahun, jawaban: “Kan hanya sekali setahun!!” sudah sering diucapkan kembali kepada saya. Ada yang setengah marah seakan-akan saya menghina agama. Yang saya kemukakan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama. Saya hanya mengingatkan ber-agama-lah sesuka anda, tetapi berperi-lakulah yang rasional. Biasa saja, pakai akal dan kepala dingin. Tidak usah marah. Tidak ada yang mengusik masalah kepercayaan dan agama anda. Menganut agama dan menjalankan pikiran yang rasional bisa bersama-sama dengan ritual ber-agama dengan damai kok.

Nah mari kita kembali ke Iedul Adha.

Ini yang saya dapatkan dari Wikipedia:

Eid al-Adha (Arabic: عيد الأضحى ‘Īdu l-’Aḍḥā) "Festival of Sacrifice" or "Greater Eid" is a holiday celebrated by Muslims (including the Druze) worldwide to commemorate the willingness of Ibrahim to sacrifice his son as an act of obedience to God.

Eid al-Adha is the latter of two Eid festivals celebrated by Muslims, whose basis comes from the Quran.[1] Like Eid al-Fitr, Eid al-Adha begins with a short prayer followed by a sermon (khuba).

Eid al-Adha annually falls on the 10th day of the month of Dhul Hijja (ذو الحجة) of the lunar Islamic calendar. The festivities last for three days or more depending on the country. Eid al-Adha occurs the day after the pilgrims conducting Hajj, the annual pilgrimage to Mecca in Saudi Arabia by Muslims worldwide, descend from Mount Arafat. It happens to be approximately 70 days after the end of the month of Ramadan.

Saya silakan untuk menyimak sendiri dan ini adalah beberapa ketentuan yang telah diterima oleh Wikipedia, bukan hasil pikiran saya. Saya merasa tidak perlu dan tidak mampu menerjemahkannya, karena ada kemungkinan membuat kesalahan dalam penerjemahan, dan bisa menimbulkan polemik, yang memang saya hindari. Apalagi saya tidak ada niat untuk menuliskan sesuatupun mengenai Iedul Adha sendiri. Yang ingin saya kemukakan adalah hal-hal berkut:

Pada suatu saat lebih dari sepuluh tahun yang lalu, negara Somalia yang melarat dan juga Sudan, dua-duanya terletak di sebelah Selatan dari Jazirah Arab, sedang kekurangan bahan makanan. Mereka semua berdesak-desakan atau mengantri panjang sekali hanya untuk mendapatkan makanan dengan badan setengah telanjang karena kemiskinan yang menimpa hebat di negeri mereka.

Pada waktu yang bersamaan ada perayaan Hari Raya Iedul Adha dengan kurban dari para jemaah Haji di Mekkah dan sekitarnya. Yang melakukan kurban berupa penyembelihan binatang , demikian banyaknya, sehingga tak tertampung penyalurannya. Saya konfirmasi dengan siapapun yang saya kenal, yang pada waktu itu menunaikan ibadah Haji bertepatan dengan Iedul Adha. Memang benar daging-daging kurban itu banyak yang mubazir (percuma, wasted). Alangkah sayangnya hal seperti itu telah terjadi.

Beberapa tahun kemudian saya diberi tau bahwa daging kurban itu telah disalurkan sampai ke negara lain dan diberikan kepada yang membutuhkannya. Saya mengucapkan syukur bahwa hal itu telah diatasi, meskipun saya tidak mengetaui kejelasannya yang lebih rinci.

Sampailah kita ke tahap usul saya.

Saya melihat kurban ini sudah melalui beberapa masa yang dulu waktu saya masih kanak-kanak, kurban diberikan oleh orang per orang secara langsung. Di Toronto, Kanada, khusus tata cara hal penyembelihannya itu ada, dan ini erat hubungannya dengan masalah kesehatan. Tidak seperti halnya di Tanah Air, di mana semua orang dan di tempat mana saja orang boleh menyembelih hewan kurban. Sekarang sejak beberapa tahun terakhir ini sudah ada sistem yang istilah Betawinya “patungan” biaya harga hewan kurban. Beberapa orang bersepakat untuk secara bersama membayar harga hewan kurban seekor sapi dan mengurbankannya.

Yang saya usulkan adalah melakukan penyembelihan dan membagi langsung kepada mereka yang berhak, di mana telah diketaui sebagai daerah yang minus kondisi nilai perekonomiannya. Ketika bagian tulisan ini saya kerjakan maka di TV One sedang ditayangkan seseorang bernama Ibu Ami yang tempat tinggalnya di Parung, Bogor, sudah berada di masjid Istiqlal di Pintu Air yang jauh sekali letaknya dari Parung, sejak satu hari sebelumnya. Dia sudah berada di masjid sejak pagi hari pada Hari Raya Iedul Adha dan waktu pemotongan hewan itu baru dilangsungkan pada sore hari untuk menhindari teriknya matahari. Waktu diwawancara itu saya melihatnya pada setelah usai saat warta berita pukul 21:00. Ibu Ami menjawab, bahwa kalau nanti daging yang dia peroleh akan hanya dibawah satu kilogrampun dia bilang itu tidak apa-apa. Kalau usul saya bisa diterima, sungguh akan alangkah berbahagianya rakyat yang hidup di daerah terpencil yang tidak sempat mengecap kemewahan (the luxury) daging hewan berkaki empat.

Oleh karena saya sudah lama melakukan praktek seperti usul saya itu di Kalimantan, di tengah hutan bukan di kota dan di sebuah Pesantren di Jawa Barat Selatan, dan sekitar Bekasi atau di desa-desa lain di mana yang secara fisik belum pernah saya kunjungi sampai saat ini. Saya sudah gembira ketika pemimpin sebuah pesantren itu menelepon saya dan mengatakan rasa terima kasihnya, sambil berkata: “Saya senang anak-anak asuh saya akan bisa ikut menikmati makan daging kambing yang Bapak sumbangkan”. Bukankah kata-kata ini menyejukkan hati? Mengapa sejuk? Kata orang Jawa: Ketrimo. Itu karena bisa di kaji dari contoh berikut: Orang kota itu kalau suatu saat mengatakan ‘malam ini kita akan makan apa?’ jawabnya bisa Mi Goreng atau Nasi Kuning atau nasi dan sate kambing. Tetapi bila pertanyaan yang sama itu dikatakan oleh orang yang bertempat tinggal di tempat terpencil, maka mungkin sekali jawabnya adalah nasi putih dengan sayur daun pakis atau nasi dengan garam atau makanan lain yang lebih sederhana. Di tengah hutan di Kalimantan Tengah amat jarang dikenal binatang ternak berkaki empat pada awal tahun 1990an. Saya pernah membawa tujuh ekor kambing naik sebuah speedboat yang agak besar, yang akan saya kurbankan di dekat Camp tempat saya bekerja, yang terletak jauh sekali dari ibukota Kabupaten Kota Waringin Timur di Propinsi Kalimantan Tengah. Yang dikonsumsi oleh seratusan orang karyawan, hanya sekitar tiga ekor dan sisanya akan saya suruh sembelih ketika para karyawan yang sedang cuti Lebaran datang kembali bekerja. Tetapi apa yang terjadi? Seekor kambing sisa itu, beberapa hari kemudian mati mendadak. Apa pasal? Karena kambing yang naas ini telah makan rumput yang hijau, yang dimangsa, tanpa terasa, bersama dengan butir-butir pasir yang menempel di daun rumput-rumput itu. Hal itu diketaui dengan pasti setelah kambing dibuka bagian perutnya dan diperiksa isi ususnya. Anda bisa tebak isinya. Benar, isinya butir-butir pasir! . Di Kalimantan ini meskipun pohonnya semua tingginya lebih dari tiga puluh meter dan umurnya melebihi seratus tahun, apabila di tebang maka tanah di mana pohon itu tumbuh lapisan bagian teratasnya banyak yang berpasir dan di bawahnya lagi adalah tanah gambut. ini bisa membantu anda yang belum mengalami, bagaimana mewahnya (luxurious)nya daging ternak seperti halnya kambing yang dikisahkan di atas.

Itulah gambaran yang bisa saya berikan, bahwa daging kurban itu akan lebih bermanfaat apabila bisa diatur agar diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Caranya: kirim fasilitas pembayaran berupa uang atau lainnya sehingga kurban bisa dibeli di tempat, sedekat-dekatnya dengan tempat tujuan seperti dicontohkan di atas. Bagi orang yang tinggal di tempat-tempat seperti Jakarta atau kota-kota yang lumayan cukup besarnya yang bisa mendatangkan daging di pasar sehari-harinya, bukan sesuatu yang aneh, karena daging adalah barang yang ada dalam kehidupan kesehariannya.

Hari ini saya makan besar. Pagi hari hanya roti panggang dan kopi. Siang hari diundang kakak ipar saya dan saya lihat demikian banyaknya hidangan, demikian juga yang hadir. Saya menghabiskan tiga potong kecil otak sapi (gulai) sedikit daging berlemak, lima tusuk sate daging kambing dan sekitar empat potong tipis lontong. Lalu es krim dan minum teh tarik. Masih banyak buah dan kueh, saya sudah tidak menyentuhnya dan malam harinya saya tidak makan sedikitpun. Bagi saya sekarang makan seperti itu sudah besar dan mewah. Saya mengingat saudara-saudara saya orang Dayak di pinggir hutan, dibawah jembatan layang sekitar gedung mewah di kota-kota besar di pulau Jawa, para nelayan dan para penambang liar, yang tidak pernah menyentuh apa yang saya habiskan pada hari ini. Makanan sekian itu adalah hanya senilai sekitar 30 persen dari apa yang saya konsumsi sepuluh tahun yang lalu dalam satu hari. Saya puas dan bahagia. Kalau terlintas dalam pikiran saya mereka yang tadi yang saya sebut di atas, tiba-tiba saya menjadi seorang yang amat amat kaya raya. Masih menikmati makanan secara nyata, merasakan makan dengan enak dan berbadan sehat.

Anwari Doel Arnowo

27 Nopember, 2009

No comments: