Monday, April 09, 2007


M o n e y
Created by Anwari Doel Arnowo
Sunday, April 08, 2007


Uang adalah alat tukar yang paling effective saat ini. Uang adalah benda buatan manusia yang menggantikan nilai barang-barang secara physic. Mata uang, berupa dan berbentuk physic bisa berupa kertas dan logam, tetapi mempunyai nilai tertentu yang diakui oleh sebagian besar manusia yang hidup diatas Planet Bumi. Kita akan membahas apa nilai uang sesungguhnya.
Dari segi ilmu Ekonomi, mungkin sekali sebagian besar manusia telah mengenalnya. Yang jarang dibicarakan orang adalah nilai nya secara mental dan non physical.
Saya menerima pada awalnya email-email mengenai uang dengan mengemukakan sebuah pendapat orang terkenal John D. Rockefeller seperti tersebut dalam asli email-email dibawah ini:

Pandu wrote:

I believe the power to make money is a gift from God.
I believe it is my duty to make money, and still more money.
John D. Rockefeller -
Berikut Ini saya cantumkan jawaban-jawaban:

Benny Waluya H. wrote:

Dear Comrade ,

Do always remember that " MONEY IS THE ROOT OF ALL EVIL "
Sorry, I don't remember .....who said that ! But we have always to be alert about that.
But ......, Poverty drives man to crime
Unknown.

----- Original Message -----
From: Peter Hariman
Sent: Monday, April 02, 2007 11:17 AM
Subject: Re: Rockefeller's 'Theology'.2.

kawan,untuk imbangannya, dari kalangan usahawan Chinese, punya proverb:钱 不 是 万 能, 但 是,没 有 钱 就 万qian bu shi wan neng, dan shi, mei you qian jiu wan 万 不 可 能 。wan bu ke neng


Kalau diterjemahkan: uang bukanlah serba bisa, tetapi tanpa uang semua jadi tidak mungkin.sorry, bagi kawan2 yang tidak menguasai Mandarin.harap ada comment, terutama dari Pandu dan Fuyuan.GBU all.

From: Pandu
To: Peter Hariman
Sent: Tuesday, April 03, 2007 4:34 AM
Subject: Re: Rockefeller's 'Theology'.2.
Friends,
Since this is a 'Theological' question, I asked the opinion of a priest. Here is his comments:
God creates all things including money.
That is why without money, as Peter (H. not St.) said: every thing would be impossible.
Therefore love money, the creation of God.
Money can buy:
- a house, but not a home.
- a crony, but not a friend.
- medicine, but not health.
- make-up, but not beauty.
- education, but not character.
- sex, but not love.
Unknown.
Cheers,
Pandu.



From: Darmawan Kurniadi
To: Pandu ; Peter Hariman
Sent: Tuesday, April 03, 2007 9:33 PM
Subject: Re: Rockefeller's 'Theology'.2.
Halo sekalian,
Boleh saya tambahkan sedikit lagi, sebagai berikut:
1. Uang itu mempunya dua muka; orang baik kalau dapat uang banyak dia bisa menjadi lebih baik dan orang jahat kalau dapat uang banyak bisa jadi lebih jahat, contohnya; seorang dermawan kalau dapat uang banyak, dia akan derma lebih banyak lagi, sedangkan seorang penjahat kalau dapat uang banyak dia akan membeli senjata, alat2 janggih untuk mendapatkan uang lebih banyak lagi.
2. Hubungan manusia dengan uang. Orang yang uangnya sedikit hidupnya diperintah oleh uang sedangkan yang banyak uang kerjanya memerintah uang. Saudara sendiri termasuk dalam golongan mana ?
3. Manusia kakinya dua, sedangkan uang berkaki tiga ! Maksudnya begini, walaupun saudara lari cepat untuk mengejar uang, dia lari lebih cepat hingga tak mungkin terkejar, sebaliknya kalau saudara tak mau uang dan coba lari mau menjauhinya tetap uang akan sampai ke saudara karena dia berkaki tiga dan larinya lebih cepat dari saudara ! Jadi manusia itu tak bisa cari uang, yang bisa cuma cari makan, dan kalau Tuhan memberkati, maka uang akan datang ke-saudara, tentu saja saudara harus berusaha, karena Tuhan tak akan memberkati seseorang kalau orang itu tak mau usaha apa2 ! O.K. menunggu tanggapan2 dari saudara yang lain ! Khing Giok
From: antonius eddy sotyakantjana<antonius_sotyakantjana@ … >To: Darmawan Kurniadi ; Pandu <irpandu@ … >; Peter Hariman ; Sent: Tuesday, April 3, 2007 10:29:29 PMSubject: Re: Rockefeller's 'Theology'.2.
Sebenarnya manusia hidup mencari uang itu tidak salah karena sehari2nya kita semua membutuhkannya. Cuma kalau direnungkan lebih mendalam, apa yang kita cari dalam kehidupan kita yang pendek di dunia ini? Kebahagiaan, Kesehatan, Ketenangan batin bersama pasangan hidup dan keluarga kita. Jadi apakah dalam mencari uang sampai mengkorbankan keluarga kita ataupun kesehatan kita ataupun nurani kita. Dalam menjalani hidup yg sehari2nya dipadati dengan berbagai aktifitas yg berorientasi dengan uang maka perlu
dicapai keseimbangan dengan pencipta kita (Tuhan), pekerjaan kita dan keluarga kita jika 3 hal ini bisa dijalani dengan porsi yang sepantasnya maka saya yakin meski mencari uang tapi tidak sampai lupa dengan keluarga dan Tuhan.
Jadi uang bukan prioritas lagi tapi kebahagiaan dan ketenangan batin bersama orang2 yang kita cintai.
Mohon maaf bila saya yang muda ini mencoba membagi perenungan.

Mungkin masih ada tanggapan-tanggapan yang lain tetapi yang saya cantumkan didalam tulisan ini adalah yang saya terima terakhir termasuk satu tanggapan dari dua buah yang berasal dari saya sendiri.
----- Original Message -----
From: Anwari Arnowo
To: antonius eddy sotyakantjana ; Darmawan Kurniadi ; Pandu ; Peter Hariman ;
Sent: Wednesday, April 04, 2007 9:39 PM
Subject: Re: Rockefeller's 'Theology'.2.

Yang penting anda harus bisa menyelia uang agar anda menjadi bahagia karenanya, kalau terjadi sebaliknya, cobalah hidup dengan jumlah yang lebih sedikit, lainnya disimpan dulu. Mungkin sekali anda menjadi bahagia.
Kalau dulu rumah ada delapan dan empat ada di tempat perisrirahatan, mobil ada sepuluh, kurangi rumah satu saja dan mobil dua saja. Anda akan menikmati hidup lebih menyenangkan. Kan uang bisa disimpan tunai dimanapun, dan cuma anda yang tahu. Jangan membebani pikiran. Santai saja.
Anwari Doel Arnowo a_arnowo@yahoo.com
Toronto,Ontario, Canada
Demikianlah kutipan email-email yang berikut jawaban secara sendiri-sendiri. Saya kutip nama-nama yang bersangkutan tanpa meminta ijin dari yang bersangkutan. Email jaman sekarang sudah milik umum, karena akan dengan mudah di forward kemana-mana, tanpa kontrol dari siapapun. Karena isinya tidak menyebabkan keresahan pada masyarakat, saya sampaikanlah pendapat yang variatip disini dengan harapan para pembaca dapat ikut menikmatinya.
Saya menganjurkan mengurangi jumlah uang yang dijadikan asset, seperti rumah peristirahatan dan atau mobil, bukan bermaksud mengganggu privasi orang lain. Anjuran saya adalah amat sesuai untuk orang yang merasa dibebani oleh hartanya yang berlimpah, padahal waktu dia melakukan pembelian asset yang memberati pikirannya itu, oleh karena semangatnya untuk berinvestasi dan atau untuk melakukan diversifikasi. Sekarang terasalah bahwa sebuah asset itu benar-benar ada bebannya, yang antara lain berupa pajak, biaya pemeliharaan, biaya kontrol dengan mengunjunginya dan beban mental sorotan orang lain, termasuk saudara-saudaranya sendiri, oleh karena assetnya memang cukup berharga. Bagaimana anda tidak akan mengunjunginya, kalau anda memiliki villa di Puncak dan Bali, misalnya. Kalau anda mempunyai seorang manajer khusus untuk masalah seperti ini, bukankah dia itu ada gajinya dan biaya-biaya yang terkait dengan tugasnya?. Beban yang tidak terlihat adalah: kalau anda menyewakan secara komersial, hampir pasti anda akan dibebani dengan dua pertanyaan pokok:
- Benarkah manager melaporkan income asset yang dikelolanya dengan jujur dan benar?
- Kalau pemakaiannya tidak untuk jangka yang lama bagaimana system kontrolnya yang baik untuk diterapkan?
Kalau dua pertanyaan yang wajar ini mulai mengganggu maka itu adalah beban pikiran yang tidak perlu. Tidak perlu ada!
Kalau asset tersebut dibeli dengan harga X, dan uang yang dipakai membelinya tidak dipergunakan untuk membeli asset tetapi dideposito, maka akan menghasilkan bunga deposito yang di Indonesia jumlahnya paling rendah dalam satu tahun 3% kali X. Dengan jumlah uang hasil bunganya ini, saya yakin anda akan dapat menggunakannya untuk membayar secara komersial dan beristirahat disekitar tempat asset anda sekarang selama beberapa hari dalam setahun. Jumlah hari per tahunnya mungkin akan lebih banyak anda peroleh kalau menggunakan bunga uang deposito dari pada kalau memiliki assetnya sendiri.
Kalau anda tidak mempnyai keluhan karena memiliki asset berapapun, maka anda bukan pribadi yang saya maksudkan dengan hal yang tersebut tadi.
Asset ataupun saham, sama saja. Semua terpulang kepada gejolak batin dan gaya kehidupan anda. Anda mempunyai kebebasan dalam memilih pilihan yang ada didalam proses berinvestasi, berdiversifikasi bahkan dalam memerangi hawa nafsu dan isi hati nurani anda sendiri atau bahkan, kalau ada, gengsi anda sendiri.
Didalam salah sebuah jawaban email diatas ada yang menyinggung bahwa uang adalah asal muasal dari semua kejahatan, yang mungkin direvisi dengan mengganti menganggur dengan uang, karena seingat saya peribahasa aslinya adalah:
Idleness is the root of all evil
Jadi bukan money tetapi idleness (pengangguran). Ini juga tergantung situasi tertentu terhadap orang tertentu pula.
Yang perlu dicerna adalah hubungan uang dan Yang Maha Kuasa Tuhan, Allah, Dewa dan Buddha atau Illahi yang lain. Kalau mau dikatakan bahwa uang itu suatu berkah atau sebuah nikmat atau sebuah kesenangan kalau jatuh dari Yang Maha Kuasa, maka WS Rendra mengatakan dalam salah satu pemikirannya sebagai berikut ini. Kalau kita kehilangan berkah atau nikmat atau kesenangan maka istilahnya akan berubah menjadi seratus delapan puluh derajat arahnya. Kita akan menggunakan istilah musibah kecelakaan dan cobaan dari Yang Maha Kuasa. Jadi sebenarnya sebaiknya adalah kalau kita tidak mengaitkan uang, rejeki dan lain-lain seperti itu dengan kekuatan Illahi. Segala hal diatas adalah ketrampilan anda berusaha dan berbadan serta berpikiran sehat, yang merupakan ciptaan Yang Maha Kuasa. Inilah sebenarnya yang disebut rejeki, nikmat atau kesenangan , atau sebaliknya musibah, kecelakaan dan cobaan dari Yang Maha Kuasa.
Saya menduga kita akan lebih sehat kalau memikirkan uang dan segala materi yang bersangkutan adalah hasil upaya dari manusia, karena dia diciptakan oleh manusia. Demikianpun halnya kalau anda melakukan upaya mencari uang dalam bentuk apapun janganlah mengumbar kata-kata yang menyangkut Illahi. Urusan Illahi adalah urusan dengan anda pribadi karena anda rajin menjalankan ajaran agama anda, dengan kepercayaan anda.

Kalau anda menjalankan ibadah agama anda tetapi pada waktu yang bersamaan berbuat bodoh dalam berinvestasi, hampir dapat dipastikan upaya anda tidak akan membuahkan hasil seperti diharapkan. Saya tengarai banyak orang berdagang sering berkata seperti berikut: “Demi Allah, saya akan merugi kalau anda membeli barang saya ini dengan harga sekian.” Pedagang seperti ini biasanya tidak berkata dengan sesungguhnya, atau tegasnya dia berbohong. Kalau anda bertemu dengan pedagang semacam ini, saya kira sebaiknyalah anda tidak percayai. Kalau kita menyimak cerita seorang nabi yang berdagang dipasar, maka mungkin sang nabi ini akan bisa berkata: “Kalau mau membeli barang ini, belilah dikedai sebelah, karena barangnya lebih bagus dan mungkin harganya lebih murah dari pada barang saya”. “Pedagang istimewa seperti ini” hanya ada kalau dia seorang nabi; manusia akan melakukan tindakan yang sebaliknya. Pedagang yang handal tidak melakukan tipu muslihat dengan mengatakan hal-hal yang menyangkut Illahi. Tidak ada larangan didalam agama apapun, untuk membeli barang seharga sepuluh satuan harga dan menjualnya sepuluh kali lipat, kalau memang ada kesepakatan yang normal dalam perdagangan antara penjual dan pembelinya.

Menanggapi sdr. Peter Hariman diatas maka you qian dan mei you qian (ada uang dan tidak ada uang) dengan hasil ekstrim berupa bu ke neng (tidak bisa), itu malah saya rasa bukan business yang Lie Hai (unggul). Business yang canggih adalah O P M (Other People’s Money).
Makin sedikit anda menggunakan uang sendiri maka makin canggihlah cara usaha dagang yang anda lakukan. Bukankah hampir lumrah atau biasa serta normal kalau pada jaman sekarang menggunakan uang pihak lain bagi keperluan usaha. Ada sarana yang normal dan modern serta disertai unsur kehati-hatian (fiduciary) didalam perdagangan seperti ini. Sebut saja sumber dana dari kredit Bank, Financial Institution, Private Placement bahkan Stock Market, Bonds, dan Funds apapun. Kalau anda jujur dalam melakukannya, anda adalah manusia beruntung, karena yang diperlukan adalah keunggulan anda dalam melakukan perdagangan atau uasaha apapun dengan menggunakan uang orang lain (O P M). Jangan malu berdagang seperti ini. Ini dilakukan oleh orang Arab, orang Yahudi, orang China dan orang India dan banyak orang Indonesia.
Tetapi masih banyak orang kita di Indonesia ingin memiliki saham besar dalam sesuatu usaha, tanpa berkeinginan menyetor sejumlah modal setara seperti dinyatakan dalam kepemilikan saham. Itu tidak adil dan terasa curang.
Kita tidak mau disebut seperti itu, kan?

Created by Anwari Doel Arnowo
Sunday, April 08, 2007 18:49:11
---ooo000ooo---

OPM OPM OPM OPM OPM OPM OPM OPM

No comments: